Korupsi Tidak Lahir dari Perut Kosong, Tapi dari Nafsu yang Tak Pernah Kenyang

Ada kebohongan yang sering kita telan diam-diam. Orang korup karena kurang uang. Padahal berkali-kali kenyataan menampar logika itu. Banyak yang tertangkap korupsi bukan orang kelaparan, bukan pengangguran, bukan orang yang bingung besok makan apa. Mereka sudah punya rumah mewah, mobil berderet, jabatan tinggi, fasilitas negara, bahkan dihormati masyarakat. Namun tangan mereka masih saja menjulur ke uang yang bukan miliknya.

Berarti persoalannya bukan kekurangan harta. Persoalannya adalah ketamakan.

Psikologi menjelaskan bahwa manusia cepat bosan dengan kenikmatan. Hari ini merasa cukup, besok ingin lebih. Setelah mencapai puncak tertentu, yang dicari bukan lagi kebutuhan, tetapi sensasi kemenangan dan kekuasaan. Uang tidak lagi dipakai untuk hidup. Uang dipakai untuk membuktikan bahwa dirinya lebih tinggi dari orang lain.

Islam sudah lebih dahulu mengingatkan soal penyakit ini. Nafsu manusia bisa tumbuh tanpa batas. Sebab yang lapar bukan perutnya, melainkan hatinya.

Ironisnya, semakin tinggi kekuasaan seseorang, sering kali semakin besar pula ilusi yang ia bangun untuk dirinya sendiri. Ia mulai merasa kebal hukum. Mulai percaya aturan dibuat untuk rakyat biasa. Mulai menganggap jabatan sebagai hak milik, bukan amanah.

Di titik itu korupsi berubah bentuk. Ia bukan lagi tindakan mencuri uang negara. Ia menjadi bentuk kesombongan. Keyakinan bahwa dirinya terlalu besar untuk disentuh, terlalu penting untuk dipersalahkan, dan terlalu pintar untuk ditangkap.

Yang menyedihkan, uang yang mereka ambil bukan lagi angka di atas kertas. Di dalamnya ada jalan desa yang tak jadi dibangun, sekolah yang bocor atapnya, rumah sakit yang kekurangan alat, dan ada rakyat yang dipaksa hidup makin sempit. 

Koruptor sering ditampilkan sebagai orang yang rakus terhadap uang. Padahal mungkin definisi yang lebih tepat adalah, orang yang gagal mengendalikan dirinya sendiri.

Karena pada akhirnya, kemiskinan tidak selalu membuat seseorang mencuri. Tetapi ketamakan yang dipelihara, sering membuat seseorang merasa dunia ini masih terlalu kecil untuk dimilikinya.

Komentar