Ketika Suku Bunga Naik, Siapa yang Sebenarnya Membayar Tagihannya?
Bank Indonesia kembali menaikkan suku bunga. Di ruang-ruang rapat para ekonom, kebijakan ini disebut sebagai langkah menjaga stabilitas. Di layar televisi, para pejabat menjelaskan bahwa ini diperlukan untuk mengendalikan inflasi dan menjaga nilai tukar rupiah. Semua terdengar ilmiah, teknokratis, dan meyakinkan.
Namun bagi rakyat biasa, suku bunga bukan grafik, bukan statistik, dan bukan presentasi power point. Suku bunga adalah cicilan yang membengkak, modal usaha yang semakin mahal, dan mimpi memiliki rumah yang semakin menjauh.
Kenaikan suku bunga sering dipuji sebagai obat bagi perekonomian. Masalahnya, seperti banyak obat lainnya, yang merasakan efek samping paling keras justru pasien yang paling lemah.
Ketika rupiah melemah, resep yang keluar adalah menaikkan suku bunga. Ketika inflasi mengancam, resepnya tetap menaikkan suku bunga. Seolah-olah seluruh persoalan ekonomi Indonesia bisa diselesaikan dengan satu tombol yang sama. Yang jarang dibicarakan adalah siapa yang harus membayar biaya dari kebijakan tersebut.
Tentu bukan pemilik deposito miliaran rupiah. Mereka justru tersenyum karena bunga simpanannya naik. Bukan pula para pemilik modal besar yang memiliki akses terhadap berbagai instrumen keuangan. Yang paling dulu merasakan dampaknya adalah pedagang kecil yang membutuhkan tambahan modal, petani yang ingin membeli pupuk dengan pinjaman, dan keluarga muda yang sedang berjuang mencicil rumah.
Bajingannya, rakyat kecil sering diminta memahami logika ekonomi makro. Mereka diminta bersabar demi stabilitas. Mereka diminta mengerti pentingnya menjaga rupiah. Tetapi ketika harga kebutuhan pokok naik, ketika biaya hidup melonjak, atau ketika lapangan kerja semakin sulit didapat, tidak banyak yang menjelaskan mengapa stabilitas yang dijanjikan tak kunjung terasa di meja makan mereka.
Kenaikan suku bunga pada akhirnya menunjukkan satu kenyataan sederhana, yaitu dalam sistem ekonomi modern, stabilitas sering kali dibeli dengan pengorbanan kelompok yang paling rentan.
Tentu, Bank Indonesia memiliki alasan yang rasional. Di tengah tekanan global dan pelemahan rupiah, menjaga kepercayaan pasar memang penting. Tidak ada yang ingin melihat nilai tukar terjun bebas atau inflasi tak terkendali. Namun kita juga perlu jujur bahwa kebijakan ini bukan tanpa korban.
Sebab ekonomi bukan hanya soal menjaga angka tetap indah di laporan bulanan. Ekonomi juga soal menjaga agar masyarakat tetap mampu hidup layak.
Di negeri ini, ketika rupiah melemah, rakyat diminta berhemat. Ketika inflasi naik, rakyat diminta bersabar. Ketika suku bunga naik, rakyat diminta memahami keadaan. Rasanya rakyat selalu diminta mengerti, sementara penyebab berbagai persoalan ekonomi jarang benar-benar diselesaikan dari hulunya.
Mungkin inilah satir terbesar ekonomi kita hari ini, ketika kapal ekonomi bocor karena berbagai masalah struktural, yang pertama kali diminta mengurangi beban justru penumpang kelas ekonomi, bukan mereka yang berada di dek paling atas.
Dan seperti biasa, atas nama stabilitas, rakyat kembali diminta membayar tagihan yang tidak pernah mereka buat.
Komentar
Posting Komentar