Nilai Dasar Pergerakan PMII: Ideologi yang Terlalu Sering Dihafal, Terlalu Jarang Diperjuangkan
Nilai Dasar Pergerakan (NDP) hampir selalu hadir dalam setiap proses kaderisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Ia dihafalkan, dikutip, bahkan dijadikan mantra legitimasi gerakan. Namun ironisnya, semakin sering NDP diucapkan, semakin jarang ia dipikirkan secara serius sebagai paradigma ideologis. NDP cenderung direduksi menjadi kumpulan nilai moral umum, bukan kerangka berpikir dan bertindak yang radikal serta transformatif.
Padahal, sejak awal kelahirannya, NDP dirumuskan bukan sebagai hiasan organisasi, melainkan sebagai cara pandang dunia PMII: bagaimana memahami Tuhan, manusia, masyarakat, kekuasaan, dan perubahan sosial. Dalam pengertian ini, NDP sejajar dengan konsep paradigma dalam tradisi filsafat dan ilmu sosial—ia tidak netral, tidak steril, dan secara sadar memihak.
Masalah utama PMII hari ini bukan karena NDP usang, melainkan karena keberanian ideologis kadernya melemah.
Tauhid sebagai Prinsip Pembebasan
Tauhid dalam NDP bukan sekadar pengakuan teologis bahwa Tuhan itu Esa. Ia adalah prinsip pembebasan: penolakan terhadap segala bentuk penghambaan selain kepada Tuhan, termasuk penghambaan kepada modal, negara, kekuasaan, dan sistem ekonomi-politik yang menindas manusia.
Tauhid meniscayakan sikap kritis terhadap struktur sosial yang merendahkan martabat kemanusiaan. Maka, mustahil seseorang mengaku bertauhid tetapi bersikap netral terhadap ketimpangan, eksploitasi, dan ketidakadilan struktural. Tauhid tanpa keberpihakan sosial adalah iman yang kehilangan daya sejarahnya.
Sayangnya, tauhid sering disempitkan menjadi urusan ritual dan kesalehan personal. Akibatnya, iman tercerabut dari realitas sosial, dan PMII kehilangan basis teologisnya untuk bersikap tegas terhadap ketidakadilan.
Kemanusiaan dan Keadilan Sosial: Sikap yang Tidak Netral
NDP secara eksplisit menempatkan kemanusiaan dan keadilan sosial sebagai orientasi utama pergerakan. Ini berarti PMII tidak berdiri di ruang hampa. Ia harus berpihak. Keadilan sosial bukan slogan normatif, melainkan posisi politik-etis terhadap konflik struktural: relasi kuasa antara negara dan rakyat, modal dan buruh, pusat dan pinggiran.
Dalam konteks ini, PMII seharusnya tampil sebagai kekuatan pengganggu—disturbing force—yang mengusik kemapanan sistem yang menormalisasi ketimpangan. Jika PMII justru nyaman berada di tengah, bersikap ambigu, atau takut kehilangan akses kekuasaan, maka NDP telah direduksi menjadi simbol kosong.
Kebebasan yang Bertanggung Jawab
Di tengah iklim kebebasan berekspresi yang sering kehilangan etika, NDP menawarkan konsep penting: kebebasan yang bertanggung jawab. NDP menolak otoritarianisme, tetapi sekaligus mengkritik liberalisme liar yang memuja kebebasan tanpa batas moral.
Kebebasan, dalam pandangan NDP, harus selalu berpijak pada penghormatan terhadap martabat manusia, nilai keadilan, dan etika sosial. Ekspresi yang melukai keyakinan, merendahkan kemanusiaan, atau memperdalam luka sosial bukanlah kebebasan yang membebaskan, melainkan kekerasan simbolik yang dilegalkan.
Di titik ini, PMII seharusnya berperan sebagai penjaga etika publik—bukan sekadar penggemar kebebasan pasar gagasan.
Transformasi Sosial: Dari Diskursus ke Praksis
Transformasi sosial adalah roh pergerakan dalam NDP. Artinya, PMII bukan organisasi diskusi tanpa konsekuensi. Pengetahuan harus berujung pada perubahan, kritik harus bermuara pada praksis, dan praksis harus terus dievaluasi secara reflektif.
Namun, transformasi sosial kerap disalahpahami sebagai aktivisme instan: demonstrasi tanpa basis ideologis, pernyataan sikap tanpa strategi, atau gerakan viral tanpa keberlanjutan. NDP justru menuntut perubahan yang sadar, terencana, dan bermoral—bukan sekadar reaksi emosional yang cepat padam.
Krisis Keberanian Ideologis
Pada akhirnya, problem PMII hari ini adalah krisis keberanian ideologis. Kita gemar menyebut diri kritis, tetapi ragu menentukan arah. Fasih mengutip teori Barat, tetapi canggung menjadikan iman sebagai dasar keberpihakan. Akibatnya, PMII berisiko menjadi organisasi yang kaya bahasa, miskin sikap; ramai diskusi, sepi transformasi.
Nilai Dasar Pergerakan bukan kitab suci yang beku, tetapi kerangka hidup yang harus terus ditafsirkan dan diperjuangkan secara kontekstual. Jika PMII ingin tetap relevan sebagai gerakan intelektual Islam, pilihannya bukan meninggalkan NDP, melainkan menghidupkannya kembali secara radikal. Tanpa itu, PMII hanya akan menjadi gema dari zaman—bukan kekuatan yang mengubahnya.
Komentar
Posting Komentar