Islam Sebagai Agama Pembebasan
Di Indonesia, Islam terlalu lama dijinakkan. Ia dipeluk negara saat butuh legitimasi, dipelihara pasar saat butuh konsumen, dan dipamerkan elite saat butuh suara. Di tengah semua itu, Islam kehilangan satu watak paling aslinya: watak pembebas.
Padahal, sejak awal, Islam bukan agama status quo. Ia lahir sebagai pemberontakan moral terhadap penumpukan harta, feodalisme Quraisy, dan ketimpangan sosial yang menghisap kaum lemah. Nabi Muhammad bukan datang membawa proposal pembangunan, tetapi kritik radikal terhadap tatanan yang timpang. Tauhid bukan sekadar doktrin teologis—ia adalah pernyataan politik: tidak ada kekuasaan absolut selain Tuhan, dan karena itu tidak ada manusia yang berhak menindas manusia lain.
Namun hari ini, Islam di ruang publik justru sering tampil sebagai penjaga ketertiban yang tidak adil. Ia sibuk mengatur moral individu, tetapi gagap membaca struktur. Ribut soal aurat, diam soal upah murah. Panik pada perbedaan tafsir, santai melihat tanah dirampas dan buruh diperas. Di sinilah Islam kiri menemukan relevansinya: bukan sebagai ide impor, tapi sebagai upaya mengembalikan Islam ke posisi asalnya—berpihak.
Islam kiri bukan Islam yang memusuhi Tuhan, melainkan Islam yang memusuhi ketidakadilan. Ia tidak alergi pada istilah “kelas”, karena Al-Qur’an sendiri penuh dengan kritik pada penumpukan kekayaan (kanz), oligarki (al-mala’), dan eksploitasi (istighlal). Ia tidak tabu bicara struktur, sebab kemiskinan tidak lahir dari kemalasan individual, tetapi dari sistem ekonomi-politik yang timpang.
Sejarah Islam Indonesia sendiri tidak steril dari semangat ini. Sarekat Islam lahir sebagai gerakan perlawanan ekonomi terhadap kapitalisme kolonial. Tjokroaminoto berbicara tentang sosialisme yang berakar pada nilai tauhid. Bahkan pesantren—yang sering dituduh apolitis—sejatinya adalah ruang produksi etika anti-penindasan. Islam di Nusantara tumbuh dari pengalaman tertindas, bukan dari istana.
Masalahnya, hari ini Islam terlalu sering dijadikan identitas, bukan alat analisis. Ia berubah menjadi simbol kultural yang aman bagi kekuasaan, bukan pisau kritik yang tajam. Ketika agama berhenti mengganggu yang mapan, saat itulah ia sedang dikhianati.
Islam kiri mengajukan pertanyaan yang tidak nyaman:
Siapa diuntungkan dari tafsir keagamaan tertentu?
Mengapa ayat tentang keadilan sosial jarang jadi bahan ceramah?
Mengapa dosa struktural nyaris tak pernah masuk mimbar?
Ini bukan soal mengganti akidah, tapi menggeser orientasi. Dari Islam yang sibuk menghakimi individu, menuju Islam yang berani menggugat sistem. Dari kesalehan personal menuju kesalehan sosial. Dari agama yang netral—menuju agama yang berpihak.
Netralitas, dalam dunia yang timpang, adalah keberpihakan pada penindas.
Karena itu, Islam kiri bukan ancaman bagi iman, melainkan ujian bagi keberanian berpikir. Ia menuntut satu hal sederhana tapi mahal: kejujuran intelektual untuk mengakui bahwa beriman kepada Tuhan yang Maha Adil tidak mungkin sejalan dengan pembiaran terhadap ketidakadilan.
Jika Islam hanya menjadi ornamen moral di tengah ketimpangan yang brutal, maka ia bukan cahaya—ia hanya lampu hias kekuasaan.
Dan Islam, sejatinya, tidak pernah diciptakan untuk itu.
Komentar
Posting Komentar