Tips Dari Syaikh Nawawi Al-Bantani Agar Allah Mengabulkan Doa Kita Yang Tertunda

Beberapa waktu lalu saya membuka salah satu kitab karya Syaikh Nawawi Al-Bantani, kitab itu adalah kitab Nashoihul Ibad. Bagiku kitab ini bisa menyembuhkan kita dari segala keterpurukan. Apalagi gen Z yang hari ini mental health yang terganggu cocok untuk membaca ini.

Dalam kitab Nashoihul Ibad bab lima menjelaskan ada lima perkara yang harus kita lakukan sebagai hamba Allah agar Allah bisa menyayangi kita. Ketika Allah berjanji tentu akan di tepati, beda dengan mahluknya yang kadang minjem seratus janji besok di gantiin kemudian menghilang. Jadi setiap janji-janji Allah kepada mahluknya pasti akan di tunaikan sebagaimana mestinya.

Adapun lima perkara yang harus kita lakukan menurut kitab Syaikh Nawawi Al-Bantani ini yang pertama kita harus bersyukur kepada Allah. Dan siapa saja yang bersyukur Allah akan terus menerus menambahnya. Maka kita sebagai hamba harus terus menerus bersyukur. Sebab, Allah tidak akan menurunkan kekecewaan dan kegundahan hati jika kita bersykur. Terkadang kesengsaraan yang nyata itu diberikan kegundahan dan kegelisahan hati yang tak berkesudahan.

Saya jadi teringat saat Nabi Musa bertanya kepada Allah bagaimana cara dia bersyukur? Allah simpel menjawabnya. Kalau bahasa sekarangnya, “Elu cukup inget gue juga itu udah jadi tanda bersyukur elu kok.” Kira-kira begitu. Kalau kita merefleksikan ke dalam diri kita, seberapa sering sih kita inget sama Allah? Setiap jam, hari, atau bahkan bulanan? Kayak angsuran pay-later.

Menurut kitab ini ada dua hal yang harus di syukuri. Mensyukuri nikmat arwah atau nikmat iman. Dan nikmat asbah atau nikmat material. Nah, ini dia. Kadang kita suka lupa hanya mensyukuri nikmat duniawi saja yang bersifat material. Sedangkan nikmat Iman kita kadang lupa. Ada satu contoh nikmat arwah, saya yakin kita semua pernah di kasih keinginan yang kuat dalam hati buat pengen sholat, nah itu salah satu nikmat iman yang harus disyukuri.

Selain itu, kita semua selalu mengkhawatirkan hari esok sedangkan nikmat-nikmat yang hari ini kita lalui akhirya lupa. Masih bisa udud, ngopi, ketawa juga seharusnya sudah syukur. Atau istri yang menekan suaminya untuk mengejar cicilan. Padahal, pulangnya suami ke rumah masih punya iman juga harus di sykuri.

Yang kedua, Allah pernah perintah kita buat minta kepada-Nya. Jadi dimana pun kita berada harus tetap berdo’a dan minta yang jelas kepada-Nya. Tentu doanya harus untuk kemaslahatan bukan kemudharatan. Terkadang berdoa saja kita tidak tau bagaimana caranya.

Dalam kitab ini menjelaskan kalau berdoa kepada Allah harus benar-benar berada dalam posisi yang sangat hina untuk meminta kepada yang sangat Mulia. Tolabul adna ila ‘a la. Coba mari kita refleksikan, terkadang kita berdoa juga buru-buru kok. Bahkan kita lebih banyak berharap kepada ciptaan-Nya dari pada kepada-Nya. Siap perintah senior.

Selain itu, kita juga sering ‘maksa’ Allah untuk segera mengabulkan apa yang kita pinta. Huh, dasar. Udah mah enggak jelas do’anya apa, pengen buru-buru pula. Beda halnya dengan kita membuat proposal pengajuan bantuan, sangat terperinci, detail dan tepat sasaran dengan angka-angka yang rasional.

Kitab ini menjelaskan ijabah itu ada dua. Ijabah aqdan dan ijabah ajdar. Ijabah aqdan ini yang langsung Allah kasih saat itu juga, kontan tanpa di hutang. Dan ijabah ajdar ini semacam tabungan kita untuk di akhirat nanti. jadi selow aja dulu. Nah, kalau mau dua-duanya tentu ada syarat menurut Syaikh Nawawi. Syaratnya tempatnya harus bersih, pakaiannya harus rapih, makanannya harus di jaga dan hatinya harus kinclong. Nah itu dia tips dari Syaikh Nawawi kalau mau keduanya di kabulkan.

Yang ketiga ini harus selalu membaca Istighfar. Kita harus terus membaca itu atas segala kesalahan-kesalahan kita yang perna kita lakukan agar Allah memaafkan kita. Sebesar apapun dosa kita kayak pernah nitip absen kuliah, nilep uang kating saat minta beliin rokok atau pernah ngegibahin senior karena saking jengkelnya, cukup terus membaca istighfar Allah pasti memaafkan. Tentunya jangan diulangi kembali ya.

Yang keempat, Allah berjanji siapa saja yang bertaubat Allah akan mengabulkan doa-doanya. Nah ini juga enggak kalah penting soal taubat. Kadang taubat kita taubat cabe aja, saat itu kita punya masalah kemudian taubat eh besok di ulang lagi.

Yang rumit dalam persoalan taubat ini salah satunya ada Hak Adami. Hak adami ini sebuah proses permohonan maaf kepada mahluk-Nya sebelum kepada Allah. Terkadang yang agak susah itu ada disini nih. Jadi selain kita harus meminta maaf kepada Allah kita juga harus meminta maaf kepada mahluk Allah yang pernah kita sakiti. Seperti pernah ngeroasting temen karena enggak bisa jadi jungler, telat bunuh lord terus kita umpat-umpatin, atau pernah ngreeport temen padahal dia mainnya bagus.

Nah, hak adami ini menekankan kita semua untuk meminta maaf dulu kepada ciptaan-Nya. Karena tidak sedikit doa-doa kita yang terhambat karena masalah kita dengan sesama mahluk-Nya. Toh kita enggak tau kan gimana hati dan perasaannya?

Yang terakhir ini yang kelima adalah Sodaqoh. Ini menjadi penting dalam kehidupan kita untuk berbagi antara satu dengan lainnya, dan syaratnya harus karena Allah. Sodaqoh enggak melulu berbicara tentang harta kok. Bisa Sodaqoh ilmu, tenaga, dan fikiran. Terkadang salahnya kita saat bersodaqoh itu enggak diniatin karena Allah. Padalah banyak sekali tenaga, waktu, fikiran dan harta yang kita korbankan selama ini.

Itu dia lima perkara yang harus kita lakukan menurut Syaikh Nawawi Al-Bantani agar Allah mau mengabulkan doa-doa kita yang antri selama ini. Mudah-mudahan semua yang saya tuliskan dengan sangat sederhana ini bisa diterima dan menjadi berkah untuk kita semua. Rahayu.

Ditulis Oleh : Teguh Pati Ajidarma (Hamba Allah)


 

Komentar